BPS Catat Inflasi Kalteng Maret 2026 Naik Signifikan

  • Bagikan

PALANGKA RAYA — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada Maret 2026 sebesar 3,86 persen. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan harga sejumlah komoditas utama dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, S.Si., M.E menjelaskan bahwa inflasi tersebut ditunjukkan oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,37 pada Maret 2025 menjadi 111,51 pada Maret 2026.

“Pada Maret 2026, inflasi year-on-year Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebesar 3,86 persen dengan IHK sebesar 111,51. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan harga secara umum dibandingkan Maret tahun sebelumnya,” ujarnya, baru-baru ini.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,54 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date) sebesar 1,39 persen. Kondisi ini mengindikasikan tren kenaikan harga yang tetap terjaga sejak awal tahun.

Agnes mengungkapkan, inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Kelompok dengan kenaikan tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 13,63 persen, diikuti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 5,34 persen.

“Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi sebesar 4,81 persen, yang menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di Kalimantan Tengah,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 2,71 persen, sementara penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,63 persen. Adapun kelompok kesehatan, transportasi, rekreasi, serta pakaian dan alas kaki juga mengalami kenaikan meski relatif lebih rendah.

Di sisi lain, terdapat dua kelompok pengeluaran yang justru mengalami penurunan indeks atau deflasi, yakni kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,15 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen.

Menurut Agnes, sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi secara tahunan. Di antaranya adalah emas perhiasan, tarif listrik, beras, daging ayam ras, ikan nila, serta telur ayam ras.

“Komoditas lain seperti minyak goreng, kopi bubuk, ikan olahan, hingga makanan jadi seperti nasi dengan lauk dan ikan bakar juga memberikan andil terhadap inflasi,” jelasnya.

Sementara itu, beberapa komoditas turut menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi, seperti bensin, bawang putih, cabai rawit, wortel, hingga sejumlah bahan pangan lainnya.

Secara wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 4,20 persen dengan IHK 113,46. Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Sukamara sebesar 2,67 persen dengan IHK 112,44.

Agnes menambahkan bahwa seluruh kabupaten/kota yang menjadi sampel penghitungan IHK di Kalimantan Tengah pada Maret 2026 mengalami inflasi, baik secara tahunan maupun bulanan.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga terjadi merata di seluruh wilayah, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa inflasi tahun ini lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 yang hanya sebesar 1,33 persen. Hal ini menandakan adanya peningkatan tekanan harga yang perlu menjadi perhatian bersama.

Dengan kondisi tersebut, BPS berharap data inflasi ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian harga dan menjaga daya beli masyarakat.

Secara keseluruhan, inflasi Kalimantan Tengah pada Maret 2026 mencerminkan dinamika kenaikan harga yang dipicu oleh berbagai komoditas utama, terutama dari sektor kebutuhan pokok dan energi. Stabilitas harga ke depan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan ekonomi daerah. (Red/Adv)

+ posts
BACA JUGA  DPRD Kalteng Soroti Minimnya Literasi, Masyarakat Diminta Cermat Gunakan Pinjol
  • Bagikan
.
Verified by MonsterInsights